Halo, NutriFriends!

Masih ingat kisah petualangan 60 karyawan Nutrifood di kota Bandung (Baca : di sini)? Memperingati Bulan Relawan Nasional, selama Desember ini, Nutrifood memang membuka kesempatan sebesar-besarnya untuk karyawan dapat berpartisipasi aktif, berkontribusi kepada masyarakat.

Sudah lebih dari lima tahun Nutrifood mendukung perjuangan insan-insan muda luar biasa lewat gerakan Indonesia Mengajar. Sejak tahun 2015 lalu, Nutrifood juga ikut berkontribusi dalam program Pencerah Nusantara (pengiriman tenaga kesehatan ke pelosok daerah yang membutuhkan). Mendengar bahwa di tahun 2016 kedua movement ini membuka daerah baru, salah satunya berada di Kabupaten yang sama, yaitu Konawe, Nutrifood tertarik untuk melihat langsung kesana, sambil belajar dari para Pengajar Muda dan Pencerah Nusantara yang ada di sana.

Mengambil momen Hari Volunteer Sedunia dan Bulan Relawan Nasional, Nutrifood pun mengundang partisipasi karyawan (dari level pekerjaan apapun) untuk mendaftarkan diri dalam program “Nutrifood Untuk Konawe” dengan cara pengiriman essay dan keaktifan dalam program Volunteer di Nutrifood, untuk kemudian dapat memilih 5 karyawan terbaik yang berkesempatan ikut serta ke Konawe selama tanggal 12 – 15 Desember 2016 lalu.

Selama di Konawe, banyak hal yang dilakukan, mulai dari terjun ke sekolah membantu teman-teman Pengajar Muda, audiensi dengan Wakil Bupati Konawe, melakukan edukasi kesehatan di Puskesman bersama teman-teman Pencerah Nusantara, dan tidak lupa untuk turut mengamati (dan memperlajari) kebudayaan lokal penduduk sekitar.

 

Hmm… setiap karyawan yang ikut serta punya kisah dan pembelajaran uniknya sendiri loh selama mengikut perjalanan di Konawe ini, mau tahu bagaimana?

Yuk simak satu-per-satu :

  1. Wulan Hapsari – Tax Book Keeper
  2. Surip – Penyelia Produksi
  3. Fajrina Atikah – Logistic Associate
  4. Idham Irawan – Personnel Admin
  5. WahyuTri Wibowo – Infrastructure Network Executive

Selamat menyelami kisah mereka dan turut memetik pembelajrannya ya 🙂

Mendidik anak-anak di pelosok negeri, berinteraksi langsung dengan kebaikan tulus penduduk asli, dan berkontribusi secara nyata dalam proses persiapan para penerus bangsa, pernah menjadi mimpi saya ketika berniat mendaftar sebagai Pengajar Muda. Namun, hal ini hanya sekedar menjadi sebuah niat karena tidak mendapatkan izin orang tua, hingga akhirnya Nutrifood yang memberikan sebuah kesempatan kepada saya dan empat orang rekan lainnya untuk berkontribusi langsung bagi anak-anak Konawe.

Keraguan mendaftar sebagai relawan Nutrifood Untuk Konawe karena load pekerjaan, berujung pada kebahagiaan bisa berada di Konawe. Ya, pekerjaan saya sepenuhnya dilakukan di kantor, tidak memerlukan perjalanan dinas. Namun, tersitanya waktu dan tenaga untuk bekerja tak lantas membuat saya enggan aktif pada kegiatan kesukarelawanan . Alhamdulillah, Nutrifood mendukung karyawannya, dalam hal ini melalui kegiatan Nutrifood Volunterism sejak tahun 2014 hingga tahun ini, dengan konsep anyar Nutrifood VolunTOURism – melakukan kegiatan volunteer di berbagai daerah.

Perjalanan menuju pelosok Konawe, Asinua, sangat memakan waktu dan tenaga. Bagaimana tidak? Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 4 jam kami masih harus menempuh perjalanan darat selama 4 jam. Ditambah kondisi jalan yang kebanyakan berupa jalan tanah menanjak dan berkelok plus licin akibat hujan deras dengan jembatan-jembatan yang hanya terbuat dari kayu balok atau batang pohon sagu. Terbayang, kan? Salah sedikit saja sang driver, mungkin mobil kami bisa terjun ke jurang! Memang pembangunan jalan disini belum sebaik Jakarta. Namun, semua lelah dan takut yang kami rasakan menuju Asinua, dibayar oleh keramahan penduduknya.

Agenda kami di Asinua adalah mengajar di SDN Asinua Utama, daerah penempatan Pengajar Muda, dalam lingkup profesi, kesehatan, dan lingkungan. Saya berkesempatan mengajarkan tentang profesi saya sebagai karyawan pajak dan juga profesi beberapa teman di Jakarta, seperti PNS Komisi Pemilihan Umum, Dokter, Desainer Grafis, dan Karyawan Proyek MRT. Bukan sesuatu yang mudah dicerna anak-anak SD, tapi terlihat jelas semangat belajar anak-anak Konawe sangat tinggi. Mereka juga sangat antusias mengenal beragam profesi. Ya, kita (dengan bermacam-macam profesi) adalah mereka di masa depan dan semoga dengan segala keterbatasan di sekitarnya mereka tetap mampu meraih cita-citanya kelak. Bahkan, para guru turut antusias ketika saya dan anak-anak menonton video profesi salah seorang teman.

Hari pertama ditutup dengan Tari Molulo (Lulo) yang merupakan tarian khas suku Tolaki di sana, yang berarti persahabatan atau persaudaraan. Terima kasih atas persahabatan dan persaudaraan yang terjalin selama kami berada di Asinua. Terima kasih telah menerima kami dengan tangan terbuka, semoga apa yang kami berikan mampu memberikan semangat bagi anak-anak meraih mimpinya.

Petualangan kami di Konawe belum usai, karena di hari kedua kami pergi ke Onembute untuk melakukan edukasi kesehatan dan lingkungan, bersama Pencerah Nusantara. Meski fokus ibu-ibu sempat terpecah karena bersamaan dengan jadwal Posyandu, namun akhirnya ibu-ibu yang hadir menunjukkan antusiasme mereka yang banyak bertanya tentang bahaya merokok, pengolahan sampah, penjernihan air bersih, dan lainnya. Hari kedua diakhiri dengan senam bersama dan cek gula darah di Desa Mata Iwoi, yang merupakan kampung transmigran Jawa tahun 80-an.

Banyak hal berharga selama empat hari berada di Konawe, yaitu tentang persaudaraan, tentang kehidupan bertetangga, tentang gotong-royong masyarakatnya, tentang keramahan penduduknya, tentang keasrian alamnya, dan semangat belajar anak-anak. Kita, yang mengaku manusia modern di tengah segala kemilau ibu kota, terkadang hanya mengutamakan ego pribadi. Segala kemudahan yang kita dapatkan di ibu kota mampu membuat kita acuh tak acuh dan terlalu memilih kawan, entah karena tidak sependapat akan suatu hal atau mudah terprovokasi berita yang belum jelas kebenarannya. Sedangkan, di Asinua, yang masih belum terjangkau sinyal telekomunikasi, mereka tidak risau membuka social media yang terkadang banyak berisi hal-hal bersifat provokatif atau kurang mendidik. Mereka juga tidak risau mencari pengakuan dari orang lain di dunia maya.

Disana, setiap orang menyapa satu sama lain dan saling membantu yang kesulitan setiap berpapasan di jalan. Mampukah kita temukan di ibu kota? Sangat jarang rasanya karena sering saya temui malah berpaling muka atau mengharapkan imbalan bahkan senyum pun sangat mahal rasanya.

Disana, mereka berkumpul pada satu rumah tetangga untuk menonton televisi bersama sambil mengobrol sebagai bentuk interaksi layaknya suasana zaman dahulu, di tengah keterbatasan energi listrik. Mampukah kita temukan di ibu kota? Hampir tidak ada rasanya, karena kebanyakan dari kita yang katanya sibuk bekerja siang malam, terlalu enggan berinteraksi dengan tetangga atau malah berlomba-lomba menunjukkan kemampuan ekonominya.

Disana, anak-anak tetap pergi sekolah meski jalan sulit dilalui akibat hujan deras. Sedangkan di kota besar, masih ada anak-anak yang bermalasan karena mengandalkan kemampuan ‘super’ orang tuanya.

Salut pada Pengajar Muda dan Pencerah Nusantara yang rela meninggalkan segala kemudahan dan kenyamanan kota untuk berkontribusi secara nyata di pelosok negeri!

Terima kasih Nutrifood atas kesempatan berharga yang diberikan kepada kami, pengalaman ini sekaligus menjadi pengingat bagi kami di penghujung tahun. Sebuah pengingat untuk selalu bersyukur atas banyak hal yang mungkin tidak bisa mereka rasakan. Sebuah pengingat untuk selalu bekerja keras di tengah segala kesulitan yang dihadapi. Sebuah pengingat untuk setidaknya meluangkan waktu melakukan kegiatan positif bagi sekitar, meski hanya sedikit. Karena hidup bukan hanya tentang bekerja dan memperoleh penghasilan setiap bulannya, tetapi juga tentang memberikan manfaat sebagai bentuk timbal balik, salah satunya melalui kegiatan sukarelawan. Percayalah ada kebahagiaan yang tercipta dari senyum mereka, untuk para sukarelawan!

Semoga di tahun-tahun mendatang, akan ada lebih banyak orang yang peduli dan mau berkontribusi melalui kegiatan sukarelawan (volunteer).

Hapsari Wulandari- Tax Bookkeeper

Perjalanan seru menantang medan belantara dari kota Unaaha menuju desa Asinua di kabupaten Konawe provinsi Sulawesi Utara, memakan waktu 4,5 jam. Kondisi hujan deras dan jalan penuh lumpur tak terelakan sepanjang jalan kita menahan nafas kalau melewati jembatan 2 bilah papan sebagai perantara, hanya tepat selebar ban mobil. Bayangkan kalau meleset sedikit, kita bisa terperosok dalam jurang tersebut. Di balik itu semua, ada keindahan hutan belantara, semaian padi yang menguning, padang safana yang luas membentang, nyanyian burung di alam. Begitu indah negeri ini 🙂

Kecamatan Asinua meliputi 8 desa : Ambodiaa, Angohi, Asinua Jaya, Asipako ,Awua Jaya, Awua Sari ,Lasada, Neluku. Tempat kita melakukan Kelas Inspirasi ada di SD Asinua Utama di Desa Asinua Jaya. Kegiatan diawali dengan silahturahmi dengan Bapak Kepala Desa, Bapak Abadi dan Bapak Kepala Adat Suku Tolaki : Bapak Muin, yang membuat kita mengenal lebih dekat  Suku Tolaki (suku asli penduduk Konawe).

 

Untuk mengenal lebih dalam tentang Suku Tolaki, kita juga belajar tari Malulo bersama teman-teman Pengajar Muda, Indonesia Mengajar. Tarian ini merupakan salah satu jenis kesenian tari tradisional dari daerah Sulawesi Tenggara, Indonesia, yang merupakan tarian persahabatan yang dilakukan dengan cara saling bergandengan tangan (disebut juga Molulo atau Lulo). Peserta tarian ini tidak dibatasi oleh usia atau golongan, siapa saja boleh turut serta; kaya, miskin, tua, muda, bahkan jika ada orang selain suku Tolaki (seperti halnya kita). Hal yang perlu diperhatikan adalah posisi tangan saat bergandengan tangan, untuk pria posisi telapak tangan dibawah menopang tangan wanita. Posisi tangan ini merupakan simbol dari kedudukan, peran, dan etika pria dan wanita dalam kehidupan.

Selasa, 13 Desember 2016. Cahaya mentari pagi berkilau di balik Gunung Lalombonda. Hari ini menjadi hari istimewa jejak langkah para inspirator muda Nutrifood  : berbagi pengetahuan seputar profesi, kesehatan, dan lingkungan Hidup. Bagaimana tidak? Kita berusaha menebar inspirasi kepada anak anak SD Asinua Utama membagun mimpi calon penerus negeri. Banyak curahan hati yang tersampaikan oleh para siswa, yang cukup membuat kita merasa tersentuh tentang bagaimana antusias dan perjuangannya untuk bisa menuntut ilmu.

“Begitu jauh 3.5 km langkah kakiku untuk bisa ke sekolah” – Ikbal

“Keringat yang menetes tak menjadi alasan bagiku” – Tiara

“Sepatu kujinjing dulu karena melewati jalan berlumpur “ – Rafi

“Derasnya air hujan, teriknya matahari siang bolong tak membuatku pudar belajar” – Doni.

”Bukit layang ku daki sungai ku sebrangi “ luapan Andri yang pantang menyerah.

”Untuk belajar saja aku kesulitan, tanpa ada buku pelajaran” – Winda.

Acara opening ceremony diawali dengan ucapan selamat datang dari Kepala Sekolah SD Asinua Utama, Bapak Hasbul. Ada perasaan senang, haru, kagum, lucu, dan hangat, saat kita bisa langsung berinteraksi dengan dengan anak-anak. Kita pun mulai membangun mimpi anak negeri ini dengan berbagai lagu dan tarian : “Guruku Tersayang“ dan “Kembali ke Sekolah”. Aku pun tak sabar menemui para murid di kelas. Aku pun mencoba berbagi inspirasi dengan turut mengajarkan Senam 7 langkah cuci tangan, serta visualisasi peran profesi dalam alur pembuatan susu : Labtek (desain produk ), Inspektor Lab ( pengamatan mikrobiologi), Inspektor Quality Control, Teknisi, Operator Produksi, dan profesi saya sendiri sebagaii Penyelia Prouduksi.

Kita pun menyadari bahwa nilai-nilai luhur bangsa mulai hilang terkikis  zaman. Aku pun coba kembali menyemai nilai –nilai itu kepada para siswa sebagai harapan bangsa : jujur, kerja keras, tekun belajar, pantang menyerah, rajin berdoa dan ibadah, sopan, percaya diri, inisiatif, dan lainnya. Kelas Inspirasi ini benar-benar bikin aku ketagihan, karena bisa berada di tengah orang–orang dengan energi positif.

Dalam closing ceremony, kemilau asa di ufuk timur menjanjikan sejuta impian masa depan anak-anak. Kita pun bersama menyimpan goresan cita-cita para siswa dalam “kapsul waktu” Acara ditutup dengan penuh kebersamaan, persembahan untuk negeri tercinta, tarian Malulo oleh seluruh siswa, guru, serta para inspirator.

Keesokkan harinya, Rabu 14 Desember, Mbak Arninta dari Nutrifood mulai mengawali hari ini sebagai MC edukasi di Desa Silea, berkolaborasi dengan rekan-rekan dari Pencerah Nusantara dan petugas Puskesmas Onembute. Inspirator muda Nutrifood berbagi tugas untuk menebar inspirasi, seputar kesehatan  dan lingkungan, yang mencakup materi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di rumah (saya sendiri), Diabetes (Mbak Steffira), Bahaya Merokok (Mas Idham ), Lingkungan Hidup (Mbak Angelique), Daur Ulang Sampah (mbak Fajrina). Mas Bowo dan Mbak Wulan membantu mengatur jalannya teknis acara pada hari itu.

Selesai di Desa Silea, kita pun melanjutkan perjalanan ke Desa Mataiwoi. Kita pun mengawali kegiatan dengan senam bersama di salah satu halaman rumah kader kesehatan : senam aerobik, senam pinguin, dan senam hipertensi. Acara dilanjutkan dengan cek gula darah secara gratis. Warga tetap antusias, walaupun sore itu diguyur hujan deras.

Banyak hal yang ku dapatkan dalam perjalanan ke Konawe kali ini :

  1. Masih ada bagian Indonesia ini yang sulit dalam akses pendidikan dan kesehatan, kita wajib bersyukur atas karunia Allah yang menempatkan kita di daerah yang lebih dari cukup.
  2. Salut dengan perjuangan Indonesia Mengajar dan Pencerah Nusantara, mereka berdedikasi tinggi dengan berbagai rintangan dan kendala.  Tetap pertahankan semangat yang membara!
  3. Senang dapat berkontribusi, walaupun kecil. Hanya melalui sharing dan pemberian sedikit buku pelajaran.
  4. Nilai-nilai kegotongroyongan masyarakat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
  5. Bagaimana strategi/berfikir memunculkan ide kreatif dan inovatif untuk mengedukasi anak-anak bangsa.
  6. Memahami arti “persahabatan dan kebersamaan” dalam perspektif Budaya Tolaki.
  7. Belajar dari sisi kehidupan di pedalaman dari negeri yang sudah merdeka : raga, rasa, dan irama  hidup yg membuat orang semakin peka, peduli, empati, dan bahkan mau mengambil peran dari sebuah isu/tantangan.
  8. Relawan itu tidak butuh pujian, sanjungan, maupun pencitraan.
  9. Bahagia sekali rasanya dapat hidup dalam kebersamaan orang-orang dengan energi positif.

Terima kasih semua atas inspirasi dan kerjasama yang luar biasa, Saya banyak belajar dari teman-teman semua! Semoga kebersamaan kita kita tidak pudar, ini menjadi kenangan yang takkan terlupakan, sangatlah mengesankan dari berangkat sampai pulang.

Salam Inspirasi Untuk Negeriku!

Surip – Penyelia Produksi